Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).
Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang
paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam
mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling
cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani). [1]
Kematian Seorang Pedagang Kaya
Ada seseorang yang sedang menghadapi sakratul maut. Temannya lalu berkata kepadanya,”Ucapkan laa ilaaha illallah.” Namun, ia malah berkata,”Tolong perbaiki rumahku yang ada di sana, juga kebunku yang ada di situ.” [2]
Ibnul Qayyim –rahimahullah- menceritakan riwayat dari seorang pedagang, bahwa salah seorang kerabatnya sedang menghadapi sakratul maut, sementara pedagang itu di sisinya. Orang-orang di situ berusaha mentalqinnya agar mengucapkan laa ilaaha illallah. Namun, ia justru berkata, :”Pak, yang ini murah, tapi ini lebih bagus. Harganya sekian pak.” Demikian seterusnya hingga ia meninggal.
Kematian Seorang Pecandu Minuman Keras
Abdul Aziz bin Abi Ruwwad menceritakan:
Aku pernah menyaksikan seorang lelaki yang menghadapi kematian. Ia sedang ditalqin untuk mengucapkan laa illaha illallah. Namun, akhir ucapannya justru menandaskan bahwa ia kafir terhadap ucapan seperti itu. Ia meninggal dengan keyakinan itu. Ketika aku bertanya, siapa lelaki itu? Ia ternyata seorang pecandu minuman keras.
Abdul Aziz berkata, “Takutlah kalian terhadap dosa-dosa, karena dosa-dosa itulah yang menjerumuskan lelaki ini pada kekufuran tersebut.” [3]
Kematian Seorang yang Zhalim dan Kejam (Hajjaj bin Yusuf)
Dari Hukaim Al-Ansi diriwayatkan, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia menceritakan:
Aku pernah menyaksikan kematian Hajjaj bin Yusuf. Menjelang kematian ia berkata, “Aduh, ada apa antara aku dengan dirimu, wahai Said bin Jubair?”
Hajjaj dikenal sebagai orang yang secara kejam melalukan banyak pembunuhan dan kedzaliman. Ia telah membunuh orang-orang shalih dan yang lainnya dalam jumlah yang banyak sekali. Diantara yang pernah dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf adalah Said bin Jubair –rahimahullah- seorang tabi’in yang agung. [4]
Ma’raji :
Aku pernah menyaksikan kematian Hajjaj bin Yusuf. Menjelang kematian ia berkata, “Aduh, ada apa antara aku dengan dirimu, wahai Said bin Jubair?”
Hajjaj dikenal sebagai orang yang secara kejam melalukan banyak pembunuhan dan kedzaliman. Ia telah membunuh orang-orang shalih dan yang lainnya dalam jumlah yang banyak sekali. Diantara yang pernah dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf adalah Said bin Jubair –rahimahullah- seorang tabi’in yang agung. [4]
Ma’raji :
- Ahkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, hlm. 9
- Az-Zairul Akhir
- At-Tadzkirah hlm. 57
- Jami’ul Ulum wal hikam I hlm. 173
- Washayal Ulama hlm. 96


0 comments:
Tanggapan anda ?