Bolehkah Menamakan Negara Yahudi Terkutuk Dengan Israel?

Sunday, July 13, 2014

Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin menamakan  yahudi La'natullah 'alaihim yang menjajah Palestina dengan penamaan Israel. Ungkapan ini tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada penuntut ilmu dan mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah islamiyah. Akan tetapi, sangat disayangkan hanya segelintir orang yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Oleh karena itu, dengan memohon perlindungan dan petunjuk kepada Allah ﷻ dalam rangka mengingatkan mengenai kekeliruan penamaan yahudi La'natullah 'alaihim dengan Israel. Artikel ini saya tulis dengan mengacu kepada risalah berjudul “ما حكم تسمية دولة يهود بإسرائيل؟”,  artinya “Apa hukum menamakan Negara yahudi dengan Israel?” yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al Mujahid Rabi bin Hadi Al Madkhali hafidzhahullah beliau adalah salah seorang guru besar ilmu hadits di Universitas Islam Madinah, Kerajaan Arab Saudi.

Makna “Israel”

Ketahuilah, bahwasannya Israil (indo : Israel) merupakan nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam bin Ishaq ‘alaihis salam bin Ibrahim ‘alaihis salam, sebagaimana yang Allah ﷻ berfirman :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Wahai Bani Israil! Ingatlah akan nikmat karunia-Ku yang telah Kuberikan kepada dan penuhilah janji kalian kepada-Ku niscaya Kupenuhi pula janji-Ku kepada kalian dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (QS. Al Baqarah 40)

Imam Ath-Thabari ketika dalam menafsirkan يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ membawakan ucapan dari Ibnu ‘Abbas radiyallu ‘anhuma :

Berkata Abu Ja’far :
 "يا بني إسرائيل" ولد يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم خليل الرحمن وكان يعقوب يدعى " إسرائيل" بمعنى عبد الله وصفوته من خلقه . و " إيل" هو الله، و " إسرا" هو العبد, كما قيل " جبريل" معنى عبد الله.

Wahai Bani Israil! “يا بني إسرائيل” adalah keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim khaliilurrahman. Dan Ya’qub ‘alaihis salam dipanggil dengan “Israil” yang bermakna ‘Abdullah (hamba Allah) dan  Shafwatullah (kekasih Allah) diantara ciptaan-Nya. Dan “Iil” adalah Allah dan “Israa” adalah hamba, sebagaimana dikatakan “Jibril” bermakna hamba Allah.

Berkata Ibnu ‘Abbas radiyallahu’anhuma :

أن إسرائيل : عبد الله

Bahwasannya “Israil” adalah hamba Allah

Sebagaimana yang dikatakan ‘Abdullah bin Harits radiyallahu’anhu bahwasannya “إيل” adalah Allah dalam bahasa Ibrani (Tafsir Ath-Thabari dalam penjelasan tafsir Surat Al Baqarah ayat 40)

Bolehkah menamai yahudi la'natullah 'alaihim dengan penamaan Israil ataupun Negara Israel?


Yang benar adalah tidak boleh menamai yahudi la'natullah 'alaihim dengan penamaan Israil. Penamaan yahudi dengan Israil adalah penamaan yang bathil, terlebih jika digunakan dalam kata-kata yang penuh penghinaan seperti “biadab Israel”, “iblis Israel”, “Israel keparat”, “Israel penjajah”, “Israel bajingan” dan sederet kata-kata kotor lainnya.

Kita meyakini bahwa apa yang diucapkan ditujukan untuk menghinakan yahudi bukan bertujuan menghinakan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Namun, justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ  berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau ﷺ dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi ﷺ. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad ﷺ  tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau ﷺ  bersabda:


ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد

“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (Riwayat Bukhari dan Ahmad)
Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi ﷺ, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad ﷺ  maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya.

Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi la'natullah 'alaihim tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Tidak perlu mempermasalahkan istilah?

Kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”,  ini adalah kaidah yang benar dan masyhur di kalangan para ulama. Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israil. Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul. (Dikutip dari tulisan Ustadz Ammi Nur Baits, Lc)

Bagaimana seharusnya kita memanggil yahudi?

Seperti yang telah dijelaskan “Israil” adalah penghormatan dan pujian yang bermakna Abdullah (hamba Allah) dan  Shafwatullah (kekasih Allah). Maka selayaknya kita memanggil yahudi dengan nama yang Allah ﷻ telah sebutkan di dalam al-Qur’an yakni yahudi dan bani Israil.

Relakah kita memanggil musuh kita dengan Israil yang berarti hamba Allah/ kekasih Allah?
Apa yang membuat kita lancang menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam?

Maraji’ :
Maa hukmu tasmiyah daulah yahuudi bi Israiil karya Asy-Syaikh Al-Mujahid Rabi bin Hadi Al Madkhali
Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari

Allahu a’lam, Al Faqir Ilallah
Adi Abu Aslam
Sebarkan Ilmu :

0 comments:

Tanggapan anda ?

 
Copyright © 2018. Kang Adi Prasetio
Diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada dengan menyertakan sumber dari artikel yang bersangkutan
Didukung Maskolis